15 Komentar

Aku Sayang Kamu (Versi Absurd)

aku sayang kamu (vers. absurd)

Hai kawan aiendyu.com yang budiman dan sering membantu ibu, gimana kabarnya sehat bukan?. Moga-moga kita selalu diberi kesehatan yah. Sesuai judul diatas gue mau buat parody dari karya sastra berjudul “Aku Sayang Kamu” dari salah satu temen wordpresser (re: blogger) yang bernama “Setia” yang pasti tentunya setia dengan semua selingkuhannya, eh itu becanda loh #piss. Sebelum kalian baca hasil racikan keabsurdan gue dalam mengolah kata – kata menjadi bermakna lain, mending kalian baca dulu versi aslinya karya mba Setia ini >> “Aku Sayang Kamu”  <<.

Udah baca?. Gimana?. Bagus kan? orang jatuh cinta yah selalu bagus di awalnya #udahgituaja. Oh iya tanpa berpanjang lebar lagi, berikut ini “Aku Sayang Kamu” versi keabsurdan gue, chekthisout :

——————

Aku Sayang Kamu
vers. absurd

Aku sayang kamu seperti kakak. Iya kakak. Kakak yang selalu digunakan seorang sales ketika aku masuk ke dalam sebuah mall. “Mampir kakak, baju nya kakak, dipilih kakak, diskon loh kakak”.

Aku sayang kamu seperti adik. Iya adik. Adik yang selalu ngompol ketika tidur bersama dan menyalahkan diriku sebagai terdakwa dalam kasus itu kepada ibu. “Ibu, ini dia ngompoooool lagi”  ucapmu sambil mengganti celana mu yang basah.

Aku sayang kamu seperti mama. Iya mama. Mama yang selalu sms tiap saat, “Nak kamu dimana? Mama di kantor polisi nih, mama butuh pulsa”.

Aku sayang kamu seperti Papa. Iya papa. Papa yang selalu aku gunakan ketika kamu menampar aku. “Aku gak papa”.

Aku sayang kamu seperti teman. Iya teman. Karena tiap saat kita jalan berdua dan bertemu dengan seseorang yang kamu kenal kemudian dia bertanya tentang aku dan kamu selalu hanya berkata “Kita cuma teman kok”.

Aku sayang kamu seperti musuh. Iya musuh. Orang yang ngeblok semua media sosial aku ketika kita punya masalah serius, seperti gara-gara ngerebutin tahu sebiji doang atau kamu yang masih ngeyel tentang balon yang meletus pada lagu ‘balonku ada lima’. “Itu warna merah sayang”.

Aku sayang kamu seperti sahabat. Iya sahabat. Ketika kamu punya masalah kamu datang kepadaku, dan ketika aku berhasil membantu masalah itu kamu lantas berkata “Kamu emang sahabat terbaikku”. Tetapi sebaliknya kamu tidak melakukan apa-apa ketika aku punya masalah, seperti membedakan cabe kriting dengan cabe-cabean.

Aku sayang kamu seperti guru. Iya guru. Guru yang selalu menggurui aku. Selalu ngajarin aku hal-hal baru. Seperti mengajar aku menggambar di sebuah dinding putih polos yang tenyata adalah tembok rumah orang. Pipi ku merah kena tamparan, tapi kamu tidak, kamu telah lari duluan. Kamu hanya berkata “Biar pipi merah asal nilai kamu tidak merah”.

Aku sayang kamu seperti dokter. Iya dokter. Dokter yang ngerawat aku saat aku sakit. Yang ngelarang aku makan eskrim ketika ku pilek, tapi kamu dengan santai makan eskrim dengan begitu ekspresif di depan aku. Dan kamu hanya berkata “Enak loh eskrimnya, kamu pasti mau kan? hahaha”.

Aku sayang kamu seperti HP. Iya HP. Kamu selalu sentuh aku tanpa menyadari apa yang aku selalu rasakan. Kamu habiskan hari mu selalu menyentuh aku. Tapi kadang-kadang kamu ngobrol dengan wanita lain dengan aku sebagai perantaranya. Kamu selalu berkata “Aku belum punya pacar kok” kepada wanita di ujung telepon itu.

Aku sayang kamu seperti tempat tidur. Iya tempat tidur. Tempat tidur yang selalu memberi kenyamanan sehingga kamu bisa mengompol sesuka mu, tidak pernah diganti, tidak pernah dicuci. “Kamu begitu adanya, bau yang ku sayang”.

Aku sayang kamu seperti Baju. Iya baju. Baju yang memberi rasa nyaman dan hangat bagi yang memakainya, aku membuatmu nyaman. Tapi kenyamanan buat mu itu hanya berlangsung satu hari, kamu ganti aku dengan baju yang lain. Kamu buang aku ke tempat cucian kotor. Aku dicuci, dan menunggu sampai kemudian kamu pakai aku lagi. “Kamu itu baju mahal, aku hanya pakai di acara penting aja kok”  ucapmu kepada ku. Oh so swit, aku sayang kamu.

Aku sayang kamu seperti sepatu. Iya sepatu. Sepatu yang melindungi kaki dari batu, beling, debu dan kotoran. Kamu selalu ada waktu jalan dengan ku. Tapi setelah itu kamu tinggalkan aku di sebuah rak. Kamu lantas berkata “Kamu disini aja yah bareng mantan-mantan ku”.

Aku sayang kamu seperti Tas. Iya tas. Tas selalu menampung kebutuhan yang selalu di butuhkan, mau itu buku, pensil, tempat pensil, tempat bekal, tempat minum, anything. Seperti aku. Aku selalu menampung apa yang kamu punya. Aku nampung duit kamu, semua HP aku, sampai air liur kamu aku tampung. Aku siap menampungnya. “Semoga air liur ini dapat mengingatkan kamu kepada ku suatu saat nanti ketika aku tertidur”  ucapmu saat tertidur.

Aku sayang kamu seperti buku diary. Iya diary. Diary yang setiap hari siap untuk mendengar keluh kesal penulisnya. Seperti aku. Setiap hari aku selalu mendengar keluh kesah mu tentang ku. “Kamu masa gini aja ga mau sih, gampang kok ini, tinggal masukin aja jari telunjuk mu” ucap mu sambil mengarahkan jari telunjukku ke lobang hidungmu yang besar itu.

Aku sayang kamu seperti jam. Iya jam. Jam selalu bertedak dan sedikit demi sedikit detik akan berlanjut akan berjalannya waktu dan kesempatan yang berlangsung untuk mengingatkan setiap manusia agar tidak menyianyiakan kesempatan pada detik itu, menit itu dan jam itu untuk yang bermanfaat dan berguna. Sama seperti aku. Aku adalah jam berjalan untukmu. “Sayang sekarang jam berapa?”. “Sayang, aku jemput kamu jam berapa?”. “Sayang jam aku hilangnya jam berapa yah?“.

Aku sayang kamu seperti payung. Iya payung. Payung yang selalu melindungi mu dari hujan. Ketika hujan aku selalu kehujanan dan kedinginan guna melindungimu. Tetapi disaat kamu di bawah perlindungan ku, kamu mengajak seorang wanita untuk payungan bareng. “Kamu emang baik hati sayang” ucapmu sambil menggenggam tangan dia.

Aku sayang kamu seperti pensil warna. Iya pensil warna. Pensil yang mempunyai banyak warna dan siap untuk di aplikasikan dengan penggunanya dengan keindahan dan rasa yang dimilikinya. “Kamu selalu memberi warna hidupku, kamu memang pensil warna ku, tapi kamu warna hitam” ucapmu kepadaku. Oh begitu romantisnya, kamu tahu warna kesukaan ku dan warna kulitku.

Aku sayang kamu seperti hal yang nyata dan memang benar benar aku sayang, aku sayang kamu. Emuuaccch *sambil ngelap ingus*.

——————

Gimana? romantis juga kan? hehe. Maaf ya mba Setia udah bikin jadi absurd karya nya. Semoga mba Setia dikemudian hari bisa membina hubungan serius sama si jurnalis  itu yah. Aamiin.

Salam lima jari, sampai jumpa di posting berikutnya, dadaaaah 😀

Link terkait :

Baca juga yah :

15 comments on “Aku Sayang Kamu (Versi Absurd)

  1. Reblogged this on APALAH ARTI PACAR, jika … and commented:
    OKE INI ABSURD

  2. Absurdnya keren… atau kerennya absurd ya… Yang mana aja boleh kakak….

  3. hahaha bisa aja nih romantis absurdnya, disambung-sambungin XD

  4. Biar absurd tapi romantis, haha

  5. geli baca tulisannya dan komentarnya, teruskan keabsurdannya XD

  6. Ya, Allah bisa aja si agan gombalan-gombalannya :v absurd absurd pula :v

    by the way, agan dapet award nih >>> http://ceritafara.blogspot.com/2014/07/liebster-award.html

Komentar kamu kami tunggu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: