36 Komentar

Kami Kok Nari Sih?

 Saman_dance (1)

Cerita ini dimulai ketika gue lulus Sokolah Dasar (SD) dan mulai memasuki SMPN 1 Pasar Kemis, SMP pertama gue dan satu-satunya yang gue diami selama tiga tahun #iyaiyalah. Waktu itu gue kelas 1 SMP, gue punya teman dekat dua orang cowok, terdengar suara “ciyeeee”, kemudian gue bales “eh gue ga homo loh!!!”. Di depan tempat gue duduk ada dua sosok temen gue, nama mereka Tulus dan Jamal, mereka bisa gue katakan pribumi disini karena tinggal dekat wilayah sekolah. Dan gue duduk dibelakang mereka bareng sama teman yang bernama Ryan, gue dan dia adalah perantau di SMP ini karena kami tinggal agak jauh dari sekolah. Kesannya sekolah di Luar yah, luar rumah.

Semester satupun selesai, gue pun bertambah akrab dengan teman-teman satu kelas. Terutama dengan si Tulus dan Jamal, lagi-lagi terdengar suara “ciyeeeee”, Gue bales lah “Gue Bukan Homo Loh” #teriakpakeToa.  Ketika memasuki semester dua, guru kesenian kami ibu Nurul memberi kami tugas untuk membagi kelompok guna Ujian Praktek yaitu Menari. Gila ngga? Kelas 1 SMP disuruh Menari. Pacaran aja kami belum sanggup, eh bentar gue doang sih kayaknya yang ngga sanggup *kemudian hening*.

Teman cowok di kelas gue rata-rata menolak perintah Ibu Nurul ini, karena mereka berpikir “Ngapain sih nari kayak cewek aja, nilai? Remidial aja ah”. Karena semester satu nilai gue terjun bebas dari ketinggian masa jaya ketika SD yang begitu indah #lebayyangribet. Kini Gue butuh nilai dan jadilah gue Mata Nilaian. Karena semua nilai itu berharga, maka ‘menari’ saat itu mendekam di otak gue ketika Ibu Nurul menjelaskan tentang syarat dan ketentuan penilaiannya. Gue nggak bisa nari tapi gue bisa ko menari-nari dihatimu #EAAA dan kemudian muntah.

Syarat untuk bisa ikut praktek menari harus berkelompok minimal 2 orang. Karena teman sekelas gue yang ikut nari itu cewek, dan gue pun bingung mau gabung ama siapa, apakah gue harus ganti kelamin? #ehngaco. Tiba-tiba dari kejauhan, teman gue Si Jamal dan Tulus datang membawa harapan, muka mereka terlihat seperti nilai buat gue. Gue ajak mereka, ternyata mereka mau gabung ikut mempraktekan suatu hal gila bersama gue. Oh iya teman sebangku dan seperjuangan gue, si Ryan lagi sakit lumayan parah sehingga harus diopname, jadi dia tidak bisa menikmati hal gila ini. Kasian dirimu yan, semoga saat kau baca cerita ini kamu tidak muntah.

Oh iya jaman dulu waktu SMP ngga ada boyband korea loh, paling ada nya boyband semisal Westlife, N Sync, Ef Seh (F4) dll, yang semuanya kalo nyanyi nggak pake nari-nari otomatis ga bisa kami tiru.  Kami bertiga bingung, tarian apakah yang bersedia untuk kami tarikan?. Kemudian gue berpikir, percaya yah kalo gue bisa mikir, “Kita nari modern aja, pake lagu masa kini aja” seru gue kepada mereka. Dan mereka mengangguk-ngangguk kecil, nggak tau kenapa.

Kami memutuskan untuk menggelar latihan dirumah Si Jamal, gue membawa kaset CD lagu-lagu modern dari rumah. Gue keluarkan lah CD gue, eh ngerti kan maksud gue, trus lagu pertama yang  gue putar adalah “Bento” dari Iwan Fals. Karena lirik dalam lagu tersebut adalah “Nama ku bento, rumah real estate, mobilku banyak, harta berlimpah” . Dan mau tau nggka gerakan yang kami sepakati untuk lirik pertama tadi, adalah nunjuk diri sendiri, bentuk rumah, bentuk mobil, dan merasa jadi orang kaya. Its simple. Iya simple banget, sampai adik tapi kakaknya Jamal mulai merasa mual atas kehadiran kami dirumahnya.

Eh ngerti maksud dari adik tapi kakaknya Jamal nggak?, jadi gini si Jamal itu punya kembaran yang namanya Jamil. Saat itu gue dan Jamal baru kelas satu SMP dan si Jamil kelas enam SD karena dia pernah ketinggalan kelas dulu, mungkin si Jamil bangun agak kesiangan jadi ketinggalan #ngaco. Nah ketika kami mempraktekan gerakan menari simple kami, dia datang melihat dan segera menuju toilet untuk muntah  Jamal ngomong gini “Mil kemarin lu abis nari kan? Ajarin kami dong” , “Tapi gue nari daerah mal”,  Jamil membalas. “Emang nari daerahnya apa mil?” giliran gue yang nanya. “Nari saman” jawab Jamil cepat. “Oke kita nari itu aja yah” keputusan sepihak gue untuk mencegah muntah masal disekolah jika kami tetap membawakan tarian Bento dan mereka pun setuju #antisipasiitubaik.

Tarian Saman, menurut wikipedia, adalah sebuah tarian suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Setelah setuju kita langsung latihan tari saman dengan gabungan tarian Ding Ding Ba Ding Ding karena lagunya Ding DIng Ba Ding Ding lagu daerah yang ada, pusing ga baca nya ding? sama gue juga ding #NyedotinPalaKeDinding. Karena kami cuma bertiga kami memutuskan memilih sendiri gerakan Saman dan Ding Ding Pak Ding Ding apa aja yang akan kami tampilkan. Its mus be simple. Iya tetap menggunakan pedoman se-simpel apapun gerakan agar kami cepat bisa. Akhirnya setelah tiga hari latihan di rumah Jamal, kami pun berhasil *kemudian menirukan gerakan tari anak alay, yaya yeye yaya yee*.

Hari penghakiman eh maksudnya penilaian tinggal dua hari. Kami sudah siap melawannya, tapi kemudian temen sekelas gue yang dikasih nama oleh orang tuanya adalah Nanang menghampiri kami, “Gue denger kalian ikut nari yah, gue boleh gabung yah?” ucap Nanang. Waktu itu gue mikir, wah dia dapet info dari mana kalo kami mau ikut nari? apa kami masuk Kabar kabari, Kiss, Insert, Silet ataupun tempat gosip disekolah #absurd. Dan akhirnya kami merekrut Nanang, alasannya sih simpel biar gilanya jadi ramean. Kami mulai mengajarkan nya cara makan, cari minum, cara napas, eh itu mah ngaco yah hehe, kami ngajarin dia semua yang kami latih. Dan dalam sehari dia mulai bisa,emang ngga salah kami ngerekrut kamu Nang #Nangisterbahakbahak.

Hari penilaian tiba. Ruangan penilaian berada di perpustakaan karena dulu gedung SMP belum semewah sekarang yang ada berbagai ruangan sendiri. Kami sudah sampai di sekolah pagi itu dan menuju ruangan perpus. Disana banyak banget siswi-siswi pada ngumpul, mereka melihat kami seperti pandangan penuh kata-kata “makhluk astral apakah mereka”Kami menunggu antrian untuk menampilkan kegilaan kami, dan dan dan akhirnya penghakiman itu tiba. Kami memasuki ruangan perpus yang agak redup karena muka siswi-siswi menggantung pada jendela perpustakaan sehingga sinar matahari berkurang. Ruangan tersebut sudah berada Ibu Nurul dan seorang siswi (asisten yang terpaksa menjadi asisten). Kami memberikan kaset kepada si asisten dan kemudian ia memasukan kaset berisi  lagu Ding Ding Ba Ding Ding kedalam music player yang sudah disediakan. lets dance together to losing face.

Kami praktekan tari hanya dalam waktu lima menit. Dan tak dinyana tarian kami sukses tanpa satupun cacat, paling cacat mental  aja #eh. Sukses juga membuat muka siswi-siswi tersebut nempel begitu erat pada jendela. Kami keluar dengan tampang lega karena muka Ibu Nurul pun cukup ceria memberikan nilai pada kami. Muka malu-maluin ini udah nggak malu lagi keluar melewati rombongan siswi di luar perpus, tapi kemudian kami menghilang #ehmalujugayah.

Akhirnya beberapa hari kemudian nilai kesenian pun keluar dan alhamdulillah nilai kami memuaskan (lebih diatas standar). Dan pada hari menuju penghujung kelas satu, kami dicari-cari oleh Ibu Nurul. Gue, yang ditugasi teman-teman untuk mewakili mereka bertemu Ibu Nurul di perpus. Diperpus terdapat beberapa siswa-siswi yang mungkin dipanggil juga sama seperti gue. Ibu Nurul pun datang, kemudian dia berkata “Ibu manggil kalian kesini untuk ngumpulin siapa-siapa aja yang bakal mentas buat acara perpisahan kelas tiga”. Gue shock mendengarnya, “APAAA?”, jeng jeng jeng, kaya sinetron-sinetron gitu #absurdabis. Gue mendengarkan omongan Ibu Nurul sampai selesai dan langsung berlari keluar menemui teman-teman yang lain. Gue ceritain apa yang terjadi dan mereka shock juga, “APAAAA?”, semua muka ngadep kamera, jeng jeng jeng #absurdabis ah. Kami nggak mau nari-nari lagi, cukup sudah. Dan kami akhirnya memutuskan menghilang, menghilang dari penglihatan Ibu Nurul dan wuuuuuus *tiup lilin*.

Link terkait :

Baca juga yah :

36 comments on “Kami Kok Nari Sih?

  1. saya juga pernah nari waktu SMP, pelajaran kesenian. karena dinilai bagus oleh gurunya, disuruh tampil di perpisahan kakak kelas. haha

  2. haha i did it too in senior high..

  3. sini saya ajarin tari gerak-gerak jari. 🙂

  4. gokil bgt critanya.. mengalir sampe saya kebawa masa imut #ehh

  5. totalitas itu namanya hingga kemudian dipanggil untuk nari lagi :-D… oya salam kenal, makasih udah beberapa kali berkunjung ke tempat saya 🙂

  6. Ikut ngakak ngebayangin tarian bento … 😀

  7. Seru seru seru ceritanya… tari saman kan lumayan susah gerakannya. Terus jd gak nampil di perpisahan kakak kelas-nya ?

  8. Seru ceritanya…itu foto btw foto si jamal dan jamil ? 🙂
    ehtapi jangan salah lho, kakak saya cowok, sedari sma sdh doyan nari, sampe ke LN lho..
    skrng punya anak gak ada 1 pun yg ada jiwa seni menyeni nari2 gitu

    • foto dari wikipedia itu mba, hehe…
      untungnya ga ada yang sempet foto pas kami nari,,
      wah asyik banget ya bisa ke LN,, dia kan hobi, kalo aku karena lagi ngejar nilai…
      anaknya harus belajar nari juga dong, apa mau dicariin bu nurul, #eh

  9. aku nari cuma pas sd aja, abis itu ga pernah lagi, hehehe
    seru lho kalo udah terbiasa nari. katanya sih bisa dapet kesempatan buat dapetin beasiswa luar negeri yang katanya seleksinya aja ada acara budaya gt, termasuk nari ini

  10. gokiiiilll XD wahaha ampe ketawa guling guling bacanya *eh
    btw sekolahku juga ada penilaian tari, aku cewe tapi tariannya cowok. hasilnya? kayak gatotkaca bences~ gak jadi gagah, jadinya malah melambai *nangis*

    nice blog btw ^^

  11. Cerita nya bikin saya ngerasa balik lagi ke jaman smp pas masih imut – imut bang haha 😀

Komentar kamu kami tunggu :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: